Ternyata Hijab Bukan Budaya Arab, Inilah Penjelasannya

Pada dasarnya bila dijumlah, total pemeluk Islam di dunia tergolong banyak, paling banyak sendiri malah dibanding dengan pemeluk agama lain. Hanya saja memang era modernitas membuat masyarakat kerap melakukan subordinasi atas Islam. Hingga agama ini dipadang kerdil bahkan teroris.

Propaganda yang menggembor-nggemborkan kebencian pada ummat Islam terkadang ditanggapi secara brutal pula oleh ummat Islam sendiri. Maklum biar bagaimana pun mereka adalah manusia biasa yang memiliki emosi.

Perdebatan tentang Islam selalu muncul bertubi-tubi. Termasuk perdebatan soal hijab. Muncul banyak pertanyaan seputar hijab. Mulai dari hakikat hijab, siapa yang mengenakan hijab, hingga dari mana akar hukum penggunaan hijab.



Dari kesemua masalah itu, dirumuskan menjadi satu pertanyaan besar: apakah hijab adalah produk budaya Arab semata? Melalui artikel ini, kami mencoba menguraikan permasalahan dengan jawaban yang sekiranya dapat diterima oleh masyarakat.

BACA JUGA: 

5 Cara Pakai Hijab ini Bukannya Dapat Pahala, Malah Dapat Dosa 

Kami dengan artikel ini sejak awal hendak mengatakan bahwa hijab itu bukan budaya Arab. Mengapa demikian? Sebab, memakai hijab adalah sebuah fiqih, sebuah hukum yang bersumber langsung dari Al-Qur'an. Dan kitab suci Al Qur'an sesungguhnya adalah Firman Allah, bukannya karya sastra atau rekaan Nabi Muhammad.

Ayat-ayat dalam Al Qur'an memang ada yang turun untuk menjawab persoalan sosial budaya di Arab, kala Rasul hidup di masa lalu. Namun persoalan hijab ini setelah kami analisis lebih cenderung kepada himbauan untuk menjaga aurat. Karena di masa lalu, ada gadis-gadis Arab yang kerap mendapatkan gangguan karena tidak berhijab.

Hijab dalam konteks Islam adalah untuk menjadi pengenal (identitas) muslimah agar berbeda dari hamba sahaya dan agar auratnya tertutup sehingga terhindar dari godaan kaum Adam. Allah Meminta rasulullah agar memperingatkan istri-istri, dan anak-anaknya, dan siapapun muslimah agar menutup saja auratnya, menjaga perhiasannya, kecuali untuk bagian yang memang biasanya nampak seperti wajah dan telapak tangan.

Budaya dipandang sebagai sistem pengetahuan dan sistem kebiasaan masyarakat yang dihayati dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Hijab adalah bagian dari sistem kehidupan Islami. Mengapa untuk melindungi aurat harus berhijab? Karena inilah satu-satunya hal yang sebenarnya sudah lekat dengan masyarakat Arab kala itu. Maksudnya, pada dasarnya sebelum perintah berhijab turun, bangsa Arab sudah mengenal budaya hijab.

Sudah mengenal budaya hijab bukan berarti fiqih Islam lantas adalah produk budaya Arab. Tidak, tidak demikian. Islam itu memang turun dalam konteks di mana masyarakat yang dihampirinya. Ketika perempuan Arab pada masa lampau telah tahu berhijab, telah paham tubuh mereka harus ditutupi kain, tapi kan tidak semua perempuan Arab melakukannya. Nah, lalu Islam pun menegaskan bahwa harusnya semua perempuan memakai hijab.

Islam menjadi peletak dasar hukum, di mana hukum ini berlaku secara universal karena Islam itu berkah untuk seluruh alam. Islam bukan agama Arab, pun dengan aturannya meskipun turun dalam konteks masyarakat Arab, tapi fiqih syariatnya berlaku di manapun. Apalagi persoalan hijab ini bersumber dari Al Quran dan Hadits, maka merupakan hukum universal.

Hijab bukanlah budaya Arab. Tidak sepenuhnya dapat dikatakan demikian. Sabda Allah, Titah Allah, Kuasa Allah itu untuk semua orang yang beriman kepadanya. Ketika Allah Berfirman agar perempuan baligh menutup auratnya, maka perempuan itu adalah semua perempuan yang memeluk agama Islam, semua yang beriman pada Allah.

Jika ada yang menyangkal soal hijab adalah budaya Arab, mereka akan gunakan logika bahwasanya Islam turun dalam konteks masyarakat Arab. Dan sebelum firman Allah tentang hijab turun, masyarakat Arab sudah mengenal hijab. Logika ini membawa pada kesimpulan hijab merupakan produk budaya Arab. Ini penalaran yang terlalu sempit. Katakanlah iya memang hijab itu budaya Arab, tapi bukankah Al Quran bukan produk kebudayaan Arab?

Hukum-hukum di dalam Al-Qur'an itu berlaku universal. Antara masyarakat Arab dengan masyarakat Indonesia sama saja. Ketika orang Arab berhijab, maka orang Indonesia juga. Janganlah spirit penalaran pluralistik dan liberal di bawa-bawa dalam penafsiran soal fiqih Islam. Hukum Islam berlaku universal, Al Qur'an itu bukan sebuah karya untuk dibedah secara hermeneutik.

 Baca Juga: 5 Jilbab yang Dilarang Dipakai Oleh Muslimah, Ini Alasannya!

Dalil-dalil dalam Al Qur'an ada yang sifatnya prinsipil, seperti soal akidah, tidak bisa ditafsirkan dalam konteks masyarakat lokal. Al Qur'an itu hukumnya mengglobal. Ketika Tuhan Islam adalah Allah, maka Tiada Tuhan Selain Allah. Ketika sholat wajib itu lima waktu maka di seluruh negara itu 5 waktu. Nah, persoalan hijab ini adalah persoalan akidah juga, persoalan prinsipil. Jadi tak bisa ditafsir.

Coba bayangkan bila hijab ditafsir dalam konteks masyarakat lokal? Maka akan muncul macam-macam hijab sepertinya. Dan hijab gaul di seluruh penjuru dunia adalah wujud dari penafsiran ini. Hijab tak lagi digunakan untuk menutup aurat, tapi hanya ceremonial tanpa makna, bahkan hanya untuk tuntutan fashion dan kecantikan.